113 views

SELAMATKAN DEMOKRASI KAMPUS

oleh : Deder Kumba (Sekretaris Jendral BEM-KM UNSUR)

Kata Demokrasi sudah tak asing lagi di dengar di Indonesia, bagaimana tidak penganut Ideologi Pancasila ini sangat tendensius terhadap keberadaan Demokrasi, yang secara etimologi Demokrasi ini berasal dari bahasa Yunani (dēmokratía) “kekuasaan rakyat”, yang terbentuk dari (dêmos) “rakyat” dan (kratos) “kekuatan” atau “kekuasaan” pada abad ke-5 SM, secara garis besar demokrasi sangat menjungjung tinggi nilai kesetaraan bersama yang kekuasaan sepenuhnya ada pada rakyat,
selanjutnya, kekayaan politis negeri ini di hiasi dengan undang-undang yang memperkuat kebebasan rakyat sepenuhnnya, Undang-undang 1945 pasal 28E ayat 3 misalnya, sudah sangat jelas, kebebasan berpendapat berkumpul dan berserikat di muka umum sudah semestinya menjadi Hak asasi manusia bagi setiap individu. Demokrasi juga merupakan seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan beserta praktik dan prosedurnya. Demokrasi mengandung makna penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.
lantas seperti apa DEMOKRASI yang hadir pada ranah Kampus? Kampus adalah kawah candradimuka tempat dimana orang-orang pilihan anak bangsa yang seyogianya menjadi ujung tombak keberlangsungan suatu bangsa ini berdiri, siapa lagi kalau bukan mereka MAHASISWA,
Mahasiswa dinilai lebih keberadaannya di tinjau dari beberapa aspek sudutnya, pengemban tugas dan menjadi pembeda bagi masyrakat pada umumnya, bagaimna tidak, mahasiswa mempunyai ruang diskusi yang lebih besar, belajar lebih lama dan titik fokus nya terhadap Tridarma perguruan tinggi yakni Pendidikan, penelitian dan pengabdian, dilain sisi juga mahasiswa sebagai agen of Change (makhluk pembaharu), sosial Control (sebagai mitra kritis pemerintah) dan iron stok (sebagai bahan inti mempersiapakan kader bangsa untuk kemajuan suatu negara).
Realitas yang ada saat ini, fungsi demi fungsi tak ubahnya hanya menjadi tinta di atas putih yang hanya disimpan menjadi arsip, kenapa tidak karena roll model yang dimiliki mahasiswa hari ini telah beralih fungsi, demokrasi tidak dijadikan rujukan yang semestisnya itu dijalankan sebagai insan bernegara di indonesia, baik skala nasional maupun kampus,
panggung dagelan yang sengaja di pertontonkan oleh penguasa, visi dan misi di gagas untuk bagaimana revolusi mental terjadi, supaya kemudian sumber daya manusia (SDM) ini terus di bentuk untuk mencerdaskan anak bangsa, setelah nya mereka cerdas dengan daya nalar kritis nya mereka terbirit ketakutan, sudah banyak contoh sekedar melirik pandangan kebelakang, Demokrasi ini sudah tidak lagi di jalankan sebagai sistem bernegara, bagaimna tidak setiap orang-orang kritis di waspadai pergerakannya dihalangi langkahnya bahkan di lenyapkan jejaknya, maksud daripada ini adalah keberadaan aktivis sebagai mitra kritis nya penguasa sudah tidak bisa di indahkan lagi.
pun demikian dengan kehidupan kampus, yang seharusnya sebagai miniatur negara, belajar menjadi bagian dari pemerintahan dan turut mempersiapkan mahasiswa menjadi bagian dari pemerintahan nantinya, lagi-lagi virus itu mengakar dengan dilarangnya mahasiswa ikut berorganisi (berkumpul, berserikat), ini sangat tidak logis dan tidak berbanding lurus dengan Undang-Hndang, dengan dalih apapun, ini sangat mencederai Demokrasi yang telah di sematkan dalam Undang-undang yang telan menjadi hak individu bagi masyaratnya,
semoga kedepan keberadaan dan fungsi mahasiswa dijalankan semestinya sebagai marwah perjuangan demi terciptanya masyarakat yang respon terhadap perubahan. dengan begitu organisasi kemahasiswaan hadir untuk upaya menjawab persoalan yang ada.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *